Melatih Fisik Anak
Melatih Fisik Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 18 Rabiul Awal 1448 H / 31 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Melatih Fisik Anak
Kedua unsur tersebut wajib diperhatikan karena saling melengkapi. Seseorang yang rohaninya sehat tetapi jasmaninya sakit akan mengalami kesulitan dalam menjalankan ibadah secara sempurna. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang jasmaninya sehat tetapi rohaninya sakit tidak akan tergerak untuk beribadah dan menuntut ilmu.
Pembahasan kali ini berfokus pada sisi jasmani, yaitu fisik dan tubuh anak. Perhatian terhadap anak tidak hanya terbatas pada pembentukan kecerdasan otak atau perbaikan akhlak (rohani), melainkan juga mencakup perkembangan serta kesehatan tubuhnya (jasmani). Oleh karena itu, melatih fisik anak menjadi hal yang sangat penting.
Islam merupakan agama yang sangat lengkap dalam memperhatikan perawatan dan pelatihan jasmani karena menggabungkan tiga pilar utama:
- Pemahaman
- Pelatihan
- Pemanfaatan
Memahamkan Anak Bahwa Tubuh adalah Titipan
Sebelum melatih jasmani anak, pemahaman harus dibangun terlebih dahulu bahwa tubuh merupakan amanah atau titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagai sebuah amanah, tubuh tidak boleh digunakan sekehendak hati, melainkan harus digunakan sesuai dengan peruntukan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tubuh wajib dijaga dan dirawat dengan baik.
Bentuk perawatan tubuh antara lain beristirahat ketika waktunya istirahat dan tidak melakukan hal-hal yang merusak kesehatan, seperti bergadang untuk bermain ponsel hingga larut malam. Bergadang yang tidak memiliki kemaslahatan merupakan bentuk kelalaian dalam merawat tubuh.
Selain itu, mengonsumsi makanan secara sembarangan hanya karena menuruti selera rasa tanpa memedulikan kandungan gizi dan manfaatnya juga termasuk bentuk tidak merawat tubuh. Tubuh memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh setiap manusia.
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu yang wajib engkau tunaikan.” (HR. Bukhari)
Tubuh yang dititipkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hak-hak yang wajib ditunaikan. Pemenuhan hak tersebut dilakukan dengan beristirahat ketika tiba waktunya istirahat, makan saat waktunya makan, serta berolahraga saat waktunya berolahraga. Pemahaman ini penting ditanamkan kepada anak agar tubuh tidak diperlakukan secara sembarangan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan tubuh manusia lengkap dengan tanda-tanda atau isyarat alami. Rasa kantuk merupakan tanda bahwa tubuh membutuhkan istirahat. Umumnya, waktu istirahat yang alami adalah setelah shalat Dzuhur dan setelah shalat Isya. Isyarat lainnya berupa suara pada perut sebagai tanda lapar, serta rasa kering pada tenggorokan sebagai penanda tubuh membutuhkan air minum.
Isyarat-isyarat tubuh tersebut harus direspons dengan peka dan tidak boleh diabaikan. Banyak penyakit berawal dari isyarat ringan yang tidak dihiraukan hingga akhirnya menjadi parah. Kepekaan terhadap tanda-tanda awal perubahan pada tubuh sangat diperlukan agar tindakan antisipasi dapat segera dilakukan.
Sebagai contoh, pengajar seperti ustadz, guru, atau kiai rentan mengalami radang tenggorokan karena intensitas berbicara yang tinggi saat mengajar, mengisi pengajian, maupun saat memberikan konsultasi. Gejala awal radang tenggorokan ditandai dengan rasa sakit saat menelan. Pemaksaan untuk terus berbicara saat gejala tersebut muncul dapat memperburuk kondisi dan memperlama proses penyembuhan. Oleh karena itu, mendengarkan isyarat tubuh dan memberikan haknya untuk beristirahat merupakan bagian dari menjaga amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Melatih Fisik Anak
Setelah pemahaman terbangun, langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan. Teori yang dimiliki tidak akan cukup tanpa adanya praktik secara langsung. Pemahaman bahwa tubuh harus digerakkan tidak akan bermanfaat apabila seseorang tetap bermalas-malasan dan hanya menghabiskan waktu untuk berbaring serta bermain ponsel.
Pelatihan dilakukan dengan menggerakkan tubuh secara fleksibel sesuai dengan usia dan minat. Bentuk gerakan bagi anak berusia tiga tahun tentu berbeda dengan anak berusia 15 tahun. Anak berusia 15 tahun dapat diarahkan untuk lari maraton, sedangkan anak berusia tiga tahun disesuaikan dengan kemampuannya.
Olahraga disesuaikan dengan kecenderungan atau hobi anak. Apabila anak menyukai kegiatan bersepeda, orang tua hendaknya memberikan kesempatan tersebut dengan tetap mengatur waktu belajar. Aktivitas fisik yang cukup akan membuat tidur anak lebih nyenyak pada malam hari dibandingkan anak yang kurang bergerak, yang berisiko mengalami kesulitan tidur hingga beralih pada penggunaan ponsel.
Apabila anak menyukai olahraga renang, orang tua dapat memfasilitasinya dengan memilih tempat yang memisahkan laki-laki dan perempuan agar pandangan mata tetap terjaga. Demikian pula jika anak menyukai permainan sepak bola, fasilitas berupa bola dan sepatu dapat disediakan sebagai bentuk perhatian.
Akan lebih baik jika orang tua tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut berolahraga bersama anak, seperti bermain pingpong, bulu tangkis, atau padel melawan bapaknya. Hal ini membuat anak merasakan bahwa orang tua tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga memiliki semangat yang sama.
Kebutuhan akan kesehatan tidak hanya milik anak, melainkan juga milik orang tua. Oleh karena itu, orang tua perlu meluangkan waktu untuk berolahraga. Selain berjalan kaki ke masjid, aktivitas olahraga dapat ditambah dengan berjalan-jalan selama 10 hingga 30 menit setelahnya.
Orang yang rajin berolahraga umumnya tidak mudah sakit dibandingkan dengan orang yang jarang berolahraga. Kondisi tubuh yang sehat akan membuat pelaksanaan ibadah menjadi lancar.
Menggunakan Fisik Untuk Ibadah
Pemanfaatan fisik yang bugar ditujukan untuk beramal shaleh, yang merupakan tujuan utama dari melatih fisik. Fisik yang bugar memungkinkan pelaksanaan ibadah dilakukan dengan baik. Keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu atau menunaikan ibadah haji tidak akan terlaksana apabila tubuh berada dalam kondisi sakit.
Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki fisik yang sangat kuat untuk beribadah dan berjuang. Khalid bin Walid merupakan seorang panglima perang yang sangat kuat dan cerdas dalam menyusun strategi. Dalam Perang Mu’tah melawan pasukan Romawi, pasukan kaum muslimin yang berjumlah 3.000 orang menghadapi pasukan musuh yang berjumlah 100.000 orang.
Setelah tiga panglima gugur, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Khalid bin Walid. Dalam pertempuran tersebut, beliau menghabiskan sembilan buah pedang yang patah saat digunakan untuk bertempur. Kualitas besi pedang yang patah dalam peperangan menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan fisik yang dimiliki oleh beliau.
Kisah lain datang dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat menaklukkan benteng Khaibar milik kaum Yahudi. Ketika benteng berhasil ditembus, beliau mencabut salah satu daun pintu gerbang benteng tersebut untuk dijadikan sebagai perisai (tameng). Setelah peperangan selesai, daun pintu gerbang tersebut baru bisa diangkat oleh beberapa orang pria, yang menandakan betapa besarnya ukuran dan bobot pintu tersebut.
Para sahabat menggunakan tubuh mereka yang kuat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, terdapat fenomena di zaman ini ketika seseorang memiliki tubuh yang sehat dan kuat, tetapi tidak menggunakannya untuk beribadah. Seseorang mampu mendaki Gunung Slamet yang medannya menanjak sejauh puluhan kilometer, tetapi tidak mampu melangkah ke masjid yang jaraknya hanya beberapa meter dengan jalan datar.
Demikian pula seseorang yang rutin berolahraga di tempat kebugaran (gym) dan mampu mengangkat beban hingga belasan kilogram, tetapi tidak mampu mengangkat kelopak matanya untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah.
Sebuah kisah menceritakan seorang da’i yang rajin berolahraga dan mengangkat beban. Saat ditanya mengenai alasannya sangat bersemangat menjaga kebugaran tubuh, beliau menjawab bahwa ibunya mengalami kelumpuhan (stroke) sehingga harus digendong ke mana-mana. Beliau menjaga kekuatannya agar dapat terus merawat dan menggendong ibunya. Pemahaman seperti inilah yang menunjukkan seseorang mengerti tujuan dari kesehatan tubuhnya.
Banyak anak di zaman ini memiliki tubuh yang sehat dan mampu mendaki berbagai gunung, tetapi enggan mencuci piring bekas pakainya sendiri, enggan menyapu, menggepel, maupun membawakan barang belanjaan orang tuanya. Padahal, beban barang belanjaan jauh lebih ringan dibandingkan dengan beban olahraga yang sanggup mereka angkat.
Fisik anak dilatih agar bugar sehingga ketika tiba waktu shalat, tubuh tersebut ringan dilangkahkan ke masjid. Kebugaran fisik juga dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan orang tua di rumah serta berperan aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat, seperti ikut serta dalam kerja bakti membersihkan lingkungan maupun jadwal piket membersihkan masjid.
Manfaat utama dari tubuh yang sehat adalah untuk hal-hal produktif dan kebaikan tersebut, bukan sekadar untuk gaya-gayaan, membuat konten media sosial, atau sekadar memamerkan bentuk tubuh. Kesehatan dan kebugaran yang hanya digunakan untuk hal-hal tersebut tidak akan memberikan manfaat ukhrawi serta tidak menambah pahala maupun amal shaleh.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Melatih Fisik Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56506-melatih-fisik-anak/